Welcome

Review Serial ANNE WITH AN E Sebuah Kisah yang Inspiratif

Anne With An E adalah sebuah serial buatan negeri Kanada produksi tahun 2017 berdasarkan adaptasi dari novel klasik Anne Of Green Gables karangan Lucy Maud Montgomery. Serial ini ditayangkan di CBC Television dan juga Netflix. Serial ini terdiri dari tiga season, season pertama terdiri dari 7 episode sedangkan season kedua dan ketiga masing-masing 10 episode. Serial ini penuh kisah yang inspiratif, maka dari itu perlu kita review agar pembaca tertarik dengan tontonan yang berkualitas.

Sama di novelnya serial ini menceritakan anak yatim piatu yang imajinatif, cerewet dan penuh semangat yang bernama Anne Shirley. pada sesaon pertama berkisah tentang masa-masa dimana Anne Shirley tinggal di Green Gables bertemu dengan kakak beradik Mathew dan Marilla Cuthbert yang mengadopsinya. Kisah dramatisnya yang diusir Marilla karena disangka mencuri brosnya Marilla, perpisahan dengan Diana Barry sahabat sejiwanya karena Ibu Diana menganggap Anne bukanlah anak yang baik.

Perselisihan Anne dan Gilbert

Hingga pertengkarannya dengan Gilbert Blythe, anak cowok sekelasnya serta Rachel Lynd tetangga Marilla yang telah dibikin kesal Anne pada hari pertama mereka berjumpa. Tapi Anne berhasil memperbaiki hubungan itu dengan permintaa maaf yang dramatis kepada Ny Rachel.

Mathew, Anne, dan Marilla

Anne Shirley adalah anak yang penuh imajinasi dan suka berhayal, setiap tempat yang indah selalu dia beri nama karena menurutnya tidak romantis apabila namanya tidak sesuai. Anne juga suka ceplas ceplos dalam berbicara, berpikiran bebas dan mandiri. Anne telah membuat Mathew dan Marilla jatuh cinta padanya, padahal sesungguhnya Marilla menginginkan anak cowok untuk diadopsi namun melihat Anne dan tingkah lakunya telah meluluhkan hati Marilla.

Anne dan Diana

Season kedua fokus pada dua tempat satu avonlea dan satu lagi perjalan Gilbert Blythe saat berlayar. Di Avonlea sendiri di hebohkan dengan adanya temuan emas oleh dua orang yang ngekos di Green Gables. Kisah pernikahan yang batal antara guru Anne, Mr Philip dengan Prissy Andrews. dan kisah datangnya guru wanita baru yang eksentrik seperti Anne.

Season ketiga fokus ke bagaimana Anne dan teman-teman sekelasnya untuk melanjutkan pendidikan ke universitas serta, semakin dewasanya mereka sehingga kisah cinta mereka pun mulai menarik disimak bahkan bisa bikin kita gemes sendiri. Di season tiga ini juga menceritakan kesetaraan gender, bagaimana suara wanita juga harus didengar.

Serial ini sangat memesona baik dari segi tokoh dan cerita, banyak pelajaran yang kita dapat dari serial ini, yaitu:

Cinta dan Kasih Sayang

Cinta bisa dirasakan oleh siapa saja, begitu juga Mathew dan Marilla walaupun mereka tidak memiliki pasangan hidup, namun dengan kehadiran Anne di Green Gables membuat mereka jatuh cinta lagi. bahkan Mathew lebih memilih Anne daripada cinta lamanya. Kasih sayang antara Gilbert dan Sebastian “Bash” Lacroix sudah seperti saudara sendiri padahal mereka berwarna kulit berbeda, tidak ada hubungan darah, baru kenal namun mereka saling percaya dan saling menjaga.

Bash, Mary, dan gilbert

Kesetaraan

Di serial ini banyak diangkat isu tentang keterbatasan dari seorang wanita, seperti masa depan wanita itu adalah hanyalah menjadi istri yang baik. pemikiran tersebut masih melekat di orang-orang jaman tersebut termasuk ibunya Diana yang tidak mengizinkan dia Kuliah tapi menginkan Diana sekola kepribadian agar bisa bersikap menjadi istri yang baik. Bahkan penduduknya mau mengusir Ibu guru yang berpikiran modern.

Diserial ini juga menyinggung soal rasisme, dimana masih menganggap orang kulit hitam adalah budak, dan merasa aneh jika berada dilingkungan mereka. Namun warga Avonlea menunjukkan kebersamaan mereka dengan membantu pasangan Bash dengan Mary.

Kebebasan

Bibi Josephine Barry adalah salah satu wanita yang memilih bebas, bebas melakukan yang dia inginkan, bebas mencintai pasanganya. Bibi josephine adalah Bibinya Diana, Bibi Josephine selalu berusaha membuka cakrawala Diana dan teman-teman, bahkan dia mau menerima Cole Mckenzie untuk tinggal bersamanya. Cole Mckenzie lari dari rumahnya karena keluarganya tidak mengerti dengan keinginanya dan Cole juga merasa dia gay dan Bibi Josephine mengerti akan hal itu.

Cole dan Bibi Josephine

Imaginatif

Anne Shirley sebenarnya hidup sengsara di Panti Asuhan, ia sering di rundung oleh sesama temannya. Untuk melupakan kesengsaraannya, Anne berkhayal bahwa dia adalah seorang tuan putri dan mengayalkan yang indah-indah di panti asuhan tersebut. Begitulah cara dia menghibur sendiri dan bertahan hidup. Setiap buku yang dia baca Anne langsung bisa menggambarkannya di kepalanya sehingga dia sangat suka membaca buku, membaca buku menjadi lebih menarik. dengan pikiran yang imaginatif dan berpikiran terbuka telah membuat Anne melalui masa lampau yang pahit dan melangkah ke masa depan dengan penuh harapan.

Sungguh disayangkan sekali serial ini terhenti di season ketiga, padahal sangat menyenangkan mengetahui kelanjutan cerita mereka di Universitas Queen dan bagaimana hubungan jarak jauh Anne dengan Gilbert, serta kehidupan Mathew dan Marilla di Green Gables setelah ditinggal Anne kuliah.

Namun tetap saja serial ini adalah tontonan yang berkualitas termasuk dari sisi sinematografinya yang indah berhasil memperlihatkan suasana tahun 1896.

Serial ini juga dipuji oleh para kritikus salah satunya Palak Jayswal gives the entire series five out of five stars and notes that while classic works of literature are often best left intact, Anne with an E offers a useful case study of when “the remake of a classic is done better than the original.” the reason this show is so successful is its ability to not only bring the original story to life but to add to it in a truly authentic way.”

Ditulis oleh Nesia Ikatara

sumber : wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published.